Travel Umroh Reguler yang Bagus

Badal Haji, Bagaimana Hukum dan Tata Caranya?

Badal haji artinya menghajikan orang lain, biasanya mereka berangkat ke tanah suci untuk berhaji sekaligus berniat menghajikan orang tua, kerabat, atau temannya yang sudah meninggal, sakit, dan alasan lain yang menyebabkannya tidak bisa menunaikan haji. Ibadah haji sendiri hukumnya fardhu dalam Islam. Untuk orang sudah meninggal dan belum berhaji memiliki dua kondisi:

1. Mampu secara ekonomi dan fisik

Apabila orang yang telah meninggal tersebut saat hidupnya mampu berhaji dengan badan dan hartanya, maka wajib bagi ahli warisnya untuk menghajikannya dengan harta orang yang telah meninggal tersebut. Kewajiban ini berlaku walaupun tidak ada wasiat dari orang yang meninggal tadi untuk menghajikannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat ke-97:

Travel Umroh Jakarta yang Bagus

Fatwa Badal Haji

وَلِلّهِعَلَىالنَّاسِحِجُّالْبَيْتِ

Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, [yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]

Hal ini diperkuat pula oleh hadits Nabi:  ada seorang laki-laki yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, “Sungguh ada kewajiban yang seharusnya hamba tunaikan pada Allah. Aku mendapati ayahku sudah berada dalam usia senja, tidak dapat melakukan haji dan tidak dapat pula melakukan perjalanan. Apakah mesti aku menghajikannya?” “Hajikanlah dan umrohkanlah dia”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam.” (HR. Ahmad dan An-Nasai)

Dalam Hadits lain disebutkan:

Ada seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku bernadzar untuk berhaji. Namun beliau tidak berhaji sampai beliau meninggal dunia. Apakah aku harus menghajikannya?” “Berhajilah untuk ibumu”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihiwasallam. (HR. Ahmad dan Muslim).

2. Tidak mampu secara ekonomi dan fisik

Apabila orang yang sudah meninggal ketika hidupnya miskin dan tidak mampu berhaji, atau dalam keadaan tua renta sehingga semasa hidup tidak sempat berhaji, maka keluarganya boleh menghajikan orang tuanya tersebut. Dalilnya selain dari yang telah disebutkan sebelumnya juga termaktub dalam hadits berikut:

Bila ketika hidupnya miskin dan tidak mampu berhaji, maka keluarganya boleh menghajikan orang tuanya tersebut

Baca juga:

Manasik Haji

Badal Haji Bagi yang Tidak Mampu

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam mendengar seseorang berkata, “Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanmu atas nama Syubrumah), maka beliau bersabda, “Siapa itu Syubrumah?” Lelaki itu menjawab, “Dia saudaraku -atau kerabatku-”. Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam lantas bertanya, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, ”Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam lalu mengatakan, “Berhajilah untuk dirimu sendiri, lalu hajikanlah untuk Syubrumah.” (HR. Abu Daud)

Sedangkan Tata cara badal haji yang diperkenankan oleh ijma’ para ulama adalah:

1. Para ulama menjelaskan, ada tiga syarat seseorang boleh membadalkan haji, yaitu:

  • Orang yang membadalkan adalah orang yang sudah berhaji sebelumnya.
  • Orang yang dibadalkan telah meninggal atau masih hidup namun tidak mampu berhaji karena sakit parah yang tidak ada harapan untuk sembuh atau lanjut usia dan lemah.
  • Orang yang dibadalkan hajinya adalah orang yang mati dalam keadaan Islam. Hal ini berarti bahwa selama hidupnya orang yang meninggal tersebut menunaikan salat.

2. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat membadalkan haji orang lain berdasarkan fatwa ulama Al-Lajnah Ad-Daimah:

  • Tidak boleh banyak orang sekaligus yang dibadalkan hajinya. Yang boleh dilakukan adalah badal haji yang dilakukan setiap tahunnya hanya untuk satu orang yang dibadalkan.
  • Dilarang membadalkan haji orang lain dengan mengharap upah, kecuali jika yang menghajikan tidak memiliki harta sendiri sehingga butuh biaya untuk membadalkan haji.
  • Badal haji bukan untuk orang yang lemah dari sisi finansial sementara dari segi fisik dia mampu. Kewajiban haji gugur bagi orang yang fakir.
  • Seorang wanita boleh membadalkan laki-laki, begitu pula sebaliknya.
  • Badal haji lebih utama dilakukan oleh ahli waris orang yang dibadalkan, jika tidak ada, menyewa orang untuk melakukannya juga diperbolehkan.

Demikian penjelasan mengenai hukum badal haji. Semoga bermanfaat.

badal haji

Rukun Haji

2 Comments

  1. Gavin

    Jika orang yg dibadalkan haji adalah ibu kita yang sudah meninggal, trus punya 6 orang anak yang belum haji tetapi iuran tiap anak sekian juta untuk biaya badal haji ibunya tersebut apakah syah?

Tinggalkan Balasan