Perbedaan Umroh dan Haji

Inilah 4 Kebiasaan Bidah dan Syirik yang Harus Anda Hindari Ketika Berhaji

marketplace paket umroh murah - umroh travel

Haji ke Baitullah

Niatan berhaji merupakan sebuah hal yang mulia. Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk melengkapi prosesnya dengan “bekal yang cukup”. Nah, selain segi biaya dan ilmu, penting bagi Anda untuk menjaga “niatan” haji agar benar-benar sesuai dengan kehendak Allah SWT. Jangan biarkan seluruhnya menjadi sia-sia; karena perilaku bid’ah (bidah) yang sengaja maupun tanpa sengaja dilakukan, entah saat keberangkatan atau ketika sudah berada di Tanah Suci.

Ketahui dan pahami terlebih dulu, perbuatan apa saja yang dilarang maupun berpotensi syirik saat berhaji dengan menghindari 4 bid’ah seputar haji berikut.

1. Sebelum Melaksanakan Ihram

  • Mengadakan acara pelepasan—Beberapa orang kerap meminta diberangkatkan dari masjid; kemudian disambut dengan shalawat Nabi, tahlilan/yasinan, bahkan dikumandangkan suara adzan dan Hal ini masuk ke dalam bidah; bahkan bisa berisiko menciptakan riya.
  • Melangsungkan pernikahan (bagi wanita yang belum memiliki mahram), dengan niat agar laki-laki tersebut menjadi mahram baginya selama umrah – Salah satu kesalahan yang wajib diluruskan adalah ketika lembaga bimbingan haji membolehkan seorang wanita pergi haji tanpa memiliki mahram atau justru menjadikan kiai atau ustaz sebagai “mahram sementara” selama perjalanan haji. Adapun hal ini tidaklah benar, sebab melanggar hadis dan menyimpang dari Al-Quran dan as-Sunah.
  • Sebelum berangkat, seseorang mengunjungi kuburan para nabi atau orang-orang saleh Tidak diperkenankan pula menziarahi kuburan keluarga, apalagi justru minta didoakan oleh para ahli kubur.
  • Salat dua rakaat setiap kali berhenti atau memasuki daerah tertentu.
  • Membaca wirid haji, surat Ali Imron, ayat kursi, dll.
  • Memiliki niatan duniawi – Bagaimanapun ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang harus dijalani dengan niatan mulia. Ini harus mutlak dipersembahkan bagi Allah SWT; tentu saja tanpa harus dibarengi dengan niatan duniawi, semisal pamer, mencari gelar “Haji”, mencari nama, menaikkan status, dsb.
  • Mengikuti arisan haji/berutang – Harus dipahami, berhaji wajib bagi mereka yang mampu. Anda tidak harus memaksakan diri/berutang, apalagi jika diiringi niatan duniawi seperti yang telah disebutkan di atas. 

2. Ketika Tiba di Tanah Suci

  • Memakai pakaian ihram, padahal belum sampai miqot.
  • Mengeraskan bacaan talbiyah dan bagi wanita berihram: mengenakan pakaian tipis, sempit, berdandan, dan menggunakan parfum.
  • Bercampurnya calon jemaah haji pria dan wanita dalam satu asrama.
  • Berkunjung dan mengkhususkan waktu untuk pergi ke masjid di sekitar Mekkah – Selain Masjidil Haram, mengunjungi masjid di sekitar Mekkah, apalagi dengan tujuan melakukan salat/ibadah di dalamnya merupakan sebuah kesalahan yang umum dilakukan oleh mereka yang berhaji.
  • Mengkhususkan waktu untuk melakukan kunjungan ke tempat bersejarah di sekitar Mekkah – Hal ini bisa berupa berkunjung ke gunung, Gua Hira, rumah kelahiran Nabi, dsb. 

Niat berhaji harus ikhlas, jangan untuk mencari gelar “Haji”

Baca juga:

Travel Umroh Reguler yang Bagus

Bid’ah Seputar Haji

3. Ketika Melakukan Tawaf

  • Mengangkat kedua tangan ketika hendak atau sudah memegang Hajar Aswad – atau kira-kira seperti saat melakukan takbiratul ihram dalam salat.
  • Tidak langsung melakukan tawaf – Beberapa orang cenderung melakukan salat tahiyyatul masjid ketika masuk ke Masjidil Haram, padahal masih dalam keadaan berihram.
  • Bersedekap – Yakni, menumpangkan kedua tangan di atas perut, dengan posisi tangan kanan di atas tangan kiri sewaktu tawaf.
  • Melakukan tawaf terus-menerus – Meski iqamah untuk salat lima waktu berjemaah telah dikumandangkan. Adapun Anda seharusnya berhenti melakukan tawaf dan langsung menghadiri salat berjemaah; lalu melanjutkan kembali tawaf seusai menunaikan salat.
  • Berjalan mundur saat keluar dari Masjidil Haram – Beberapa orang berkeyakinan, tidak dibolehkan berjalan membelakangi Kakbah. 

4. Ketika Pulang ke Kampung Halaman

  • Meminta dipanggil dengan sebutan “Haji” – Berikut berdandan berdasarkan embel-embel haji, seperti halnya merasa wajib menggunakan pakaian putih dan kopiah; mengganti namanya dengan nama yang baru; didudukkan di kursi untuk bersalaman dengan orang-orang yang berkunjung (sering kali berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya).
  • Ketika kepulangan, disambut dengan shalawat nabi.
  • Mengadakan tasyakuran.
  • Tidak membolehkan dirinya keluar selama satu minggu – Pada beberapa orang ada anggapan bahwa tidak menunaikan salat lima waktu secara berjemaah adalah sunah. 
Perbedaan Umroh dan Haji

Persiapan Haji

Itulah 4 penjelasan terkait syirik dan bidah seputar haji. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan