Dana Talangan Umroh, Halalkah?

Pergi ke tanah suci, baik haji ataupun umrah, merupakan impian setiap umat Islam. Namun, tidak semua bisa mewujudkan impian tersebut. Alasan utama yang kerap dihadapi adalah dana. Hingga akhirnya muncul solusi dana talangan umroh dan haji yang memberikan keringanan biaya pergi ke tanah suci.

Dana talangan umroh memberikan solusi pembiayaan bagi calon jemaah yang ingin melaksanakan umrah ke tanah suci. Dengan cara ini, para jemaah bisa terlebih dulu berangkat ke Mekkah dengan memakai dana talangan dari pihak ketiga. Selanjutnya, jemaah wajib melunasi dana talangan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.

Terdapat beberapa pihak yang memberikan layanan seperti ini. Mulai dari bank syariah hingga penyedia layanan travel umrah. Namun, yang menjadi pertanyaan besar tentunya adalah terkait hukum dari dana talangan tersebut. Apakah umat Islam diperbolehkan menggunakan dana pinjaman seperti ini untuk pergi ke Mekkah?

Untuk hal yang satu ini, ternyata ada dua pendapat ulama yang berseberangan, satu pihak menghalalkan dan pihak lain mengharamkan. Adanya perbedaan pendapat ulama pada kasus ini karena berkaitan dengan bunga pinjaman.  

Pendapat yang menghalalkan

MUI - menara62

MUI – menara62

Salah satu kelompok ulama yang menghalalkan kelangsungan layanan dana talangan umroh dan haji adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), tertuang dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) nomor 29 tahun 2002.

Dalam fatwanya, MUI menganggap bunga dari dana talangan tersebut sebagai ujrah atau imbalan jasa. Ujrah tersebut didapatkan sebagai bagian dari jasa pengurusan umrah dan haji oleh pihak bank.

Selain itu, dalam pelaksanaannya, pihak bank juga memberikan dua jenis akad kepada penerima dana talangan, yakni akad ujrah dan akad qard (pinjaman uang). Akad qard dijalankan dengan tanpa mengikutsertakan bunga. Dana talangan dikembalikan dalam jumlah utuh, seperti mengacu pada Fatwa DSN MUI nomor 19/DSN-MUI/IV/2001.

Baca Juga:

Berdoa

Berdoa

Selain itu, MUI juga memandang manfaat lain yang bisa diperoleh dari pelaksanaan dana talangan ini. Mulai dari adanya jaminan keberangkatan, meringankan pembayaran biaya umrah dan haji, hingga faktor keuntungan yang diterima pihak bank.

Pendapat yang mengharamkan

Jamaah Umroh

Jamaah Umroh

Sementara itu, ada pula ulama serta ahli fiqih yang memiliki pendapat berlawanan dengan MUI. Setidaknya, terdapat tiga alasan utama dari para ulama yang berpendapat mengharamkan adanya dana talangan umroh, yakni:

1. Bukan ujrah, tapi bunga

Menurut ulama yang mengharamkan dana talangan, dana talangan umroh tetap menggunakan bunga, bukan ujrah. Alasan yang digunakan oleh MUI dianggap sebagai alasan yang dibuat-buat. Buktinya, berbagai aktivitas seperti pembuatan paspor, visa, pengurusan tiket, pemesanan kamar, dan lain-lain tidak dilakukan oleh pihak bank.

 

2. Calon jemaah bukan orang yang mampu

 

Umrah dan haji merupakan ibadah yang ditujukan untuk orang-orang yang telah mampu secara ekonomi. Namun, dengan adanya dana talangan umroh atau haji, ibadah ke tanah suci bisa dilakukan oleh siapa saja. Imbasnya, layanan seperti ini akan menghilangkan kesempatan beribadah bagi orang-orang yang mampu.

Dana talangan umroh memberikan solusi pembiayaan bagi calon jemaah yang ingin melaksanakan umrah ke tanah suci. Dengan cara ini, para jemaah bisa terlebih dulu berangkat ke Mekkah dengan memakai dana talangan dari pihak ketiga. Selanjutnya, jemaah wajib melunasi dana talangan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.

 

3. Memaksakan diri

Jamaah Umroh

Jamaah Umroh

Penyediaan dana talangan umroh dan haji juga dianggap sebagai salah satu bentuk memaksakan diri yang tidak tepat bagi calon jemaah. Padahal, dalam Alquran mengungkapkan kalau ibadah ke tanah suci hanya untuk orang-orang yang mampu. Kalau masih belum mampu, kewajiban pergi ke tanah suci gugur.  

Lalu, dari dua pendapat tersebut, mana yang memiliki tingkatan lebih tinggi? Perlu diketahui, perbedaan pendapat di tingkat ulama merupakan hal yang biasa. Umat Islam pun diperbolehkan untuk mengikuti salah satu pendapat. Mengingat, fatwa ulama bukan merupakan aturan yang mengikat secara hukum.

Sumber:

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1379257350

http://www.dwhajiumroh.com/2016/09/program-dana-talangan-cicilan-angsuran-umroh.html

http://www.republika.co.id/berita/koran/syariah-koran/16/03/23/o4hcsa-menyoal-utang-biaya-umrah

Tinggalkan Balasan