kemenag haji

Haji dan Warisan Tauhid dari Seorang Perempuan Hebat

Tentu kita semua sudah sangat akrab dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim yang memiliki keimanan yang luar biasa. Kini, buah dari keimanannya telah diabadikan dalam bingkai ibadah haji dan umroh. Berbagai peristiwa dan tempat bersejarah adalah warisan tauhid keluarga Nabi Ibrahim. Kakbah, peristiwa kurban, berlari ke bukit Safa dan Marwa, air zam-zam, melempar jumroh, bahkan peradaban di kota Mekkah adalah warisan keluarga Nabi Ibrahim. Semuanya Allah jaga dengan baik sebagai pelajaran bagi umat sesudahnya. Panggilan iman inilah yang membuat penyerahan diri seorang muslim secara sempurna kepada Allah.

Pakaian Ihram Wanita

Pakaian Ihram Wanita

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Albaqarah: 208)

Peristiwa kurban adalah salah satu kisah ideal betapa teguh keyakinan dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah. Beliau mampu mengorbankan anak yang dicintainya, yang bahkan masih kecil usianya, hanya untuk disembelih. Logika yang hampir tak bisa diterima oleh akal sehat, tapi dengan mudahnya diterima karena keimanan yang kuat. Membuat banyak kisah Nabi Ibrahim yang diabadikan di dalam Alquran.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Benarlah (segala yang difirmankan) Allah’, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang yang musyrik.” (QS. Ali Imran: 95)

Jauh sebelum peristiwa yang kini dikenal dengan Iduladha, ada lagi satu kisah luar biasa. Tentang seorang perempuan hebat yang memulai peradaban di tempat tandus yang tidak ada siapa-siapa dan tidak mempunyai apa-apa. Karena keimanan dan kesabarannya, kini kota Mekkah didatangi jutaan orang dari seluruh dunia. Dialah Siti Hajar, istri dari Nabi Ibrahim sekaligus ibu dari Nabi Ismail.

Mengajar Si Kecil Makna Ibadah Haji

Makna Haji dalam Islam

Sungguh, perempuan mana yang kuat hatinya saat dibawa pergi ke tempat antah-berantah, tandus, dan tak berpenghuni dengan bayi kecil yang masih menyusu, lalu ditinggalkan suaminya. Sepanjang perjalanan, Siti Hajar bertanya-tanya kepada suaminya seperti yang diceritakan di dalam sebuah hadis. “Oh Ibrahim, di mana engkau akan meninggalkan kami, di lembah yang tidak ada orang dan hal lain (untuk bertahan hidup)?”. Berkali-kali diulangi, namun Ibrahim tak menjawab karena berat di hatinya. Lalu Siti Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?”. Barulah Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”.

Jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi Siti Hajar, tidak ada lagi keraguan karena itu adalah kehendak Allah. Keyakinannya bahwa Allah tidak akan mengabaikan mereka di lembah tandus itu, menenangkan hati Siti Hajar. Bahkan ketika telah berdua saja dengan bayi Ismail yang menangis kelaparan, Siti Hajar masih berpikir positif di tengah panasnya gurun yang kering. Siti Hajar berusaha mencari air ke sana-kemari, menuruni bukit Safa dan Marwa. Akhirnya Allah mengaruniakan air zam-zam. Karena mata air itulah, Suku Jurhum datang, memohon untuk menetap hingga daerah itu menjadi ramai. Lalu Ibrahim kembali dan mendirikan Kakbah, sehingga tumbuh suatu peradaban besar.

Niat Haji

Niat Haji

Betapa Allah memuliakan Siti Hajar. Seorang perempuan yang sangat taat pada perintah Allah, istri yang menuruti suaminya, seorang ibu yang rela berjuang untuk anaknya. Rela berlari dalam letih di tengah terik matahari hanya untuk mencari air. Rela terasing di lembah tandus dengan seorang bayi, tanpa suami mendampingi. Tidaklah heran, anaknya Ismail memiliki keteguhan iman saat akan disembelih ayahnya. Warisan tauhid yang masih dikenang hingga kini, yang kisahnya diabadikan dalam ibadah haji, tepatnya pada saat sai.

Telepon genggam akan sangat berguna bila Anda tersesat atau terpisah dari rombongan.

Baca juga:

Sekarang, tidak hanya kaum wanita yang harus meneladani Siti Hajar, bahkan kaum pria pun dituntut hal yang sama. Memiliki iman yang teguh dan menyerahkan diri sepenuhnya hanya untuk Allah, yang salah satunya dibuktikan dengan melaksanakan ibadah haji dan umroh ke Tanah Suci Mekkah.

“Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itulah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al bayyinah: 7-8)

Sumber:

http://www.islamicity.org/6282/hajj-and-the-neglected-legacy-of-a-great-woman/

Tinggalkan Balasan