Imam Bukhari, Sang Perawi Hadis yang Termasyhur

Umat Islam pasti tidak asing lagi dengan namanya. Dialah Imam Bukhari, sang muhaddits yang telah meriwayatkan ribuan hadis sahih. Karyanya yang berjudul Sahih al-Bukhari mungkin tersimpan di rak buku Anda.

Bagaimana perjalanan hidup sang perawi yang termasyhur itu? Penting juga bagi Anda untuk mengetahuinya demi menambah khazanah pengetahuan dan semangat keimanan. Beginilah kisahnya.

Masa Kecilnya

sholat berjamaah

sholat berjamaah

Nama aslinya adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah. Beliau dilahirkan di Bukhara pada 13 Syawal 194 H, tepatnya pada hari Jumat usai salat Jumat.

Ayahnya juga merupakan ahli hadis, tapi tidak terlalu banyak merawikan hadis. Sang ayah yang bernama Isma’il menganut mazhab Maliki. Beliau wafat ketika Bukhari masih kecil.

Bukhari yang menjadi yatim pun hanya diasuh oleh ibunya. Mereka hidup berkecukupan karena sang ayah meninggalkan harta yang halal lagi berkah. Semasa hidupnya, Ismail sangat berhati-hati dalam mengumpulkan harta agar terhindar dari perkara haram maupun syubhat.

Seratus hadis dibagikan kepada 10 orang yang masing-masing menanyakan 10 hadis berbeda kepada Bukhari. Kenyataannya, dia mampu mengoreksi setiap hadis hanya dengan sekali dengar

Baca juga:

Kitab hadist - yufidia

Kitab hadist – yufidia

Mata Bukhari kecil sempat mengalami kebutaan. Namun, Allah mengembalikan penglihatannya berkat doa-doa sang ibu. Malam sebelum penglihatan anaknya kembali, sang ibu bermimpi melihat Khalilullah Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim menyampaikan, “Wahai Ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.”

Memiliki Kejeniusan dan Daya Hafalan yang Sangat Kuat

haji-2010-1431h-oleh-al-jazeera-english

haji-2010-1431h-oleh-al-jazeera-english


“Aku menyusun kitab
Al-Jami’ (Shahih Bukhari) ini dari 600.000 hadis yang telah aku dapatkan dalam waktu 16 tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari, hal. 656).

Betapa besar jasa Imam bukhari bagi umat muslim. Semua itu berkat karunia dan Izin Allah, beliau sangat jenius dan memiliki daya hafalan yang sangat kuat.

Adapun beliau mendapatkan ilham untuk menghafal hadis sejak usianya 10 tahun. Dia bahkan sudah bisa mengoreksi riwayat hadis di usia yang masih sangat muda itu. Tatkala Ad-Dakhili membacakan hadis di majelisnya, Ad-Dakhili mengatakan, “Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.”

Bukhari kecil mengoreksi, “Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.”

Awalnya, Ad-Dakhili menghardiknya. Namun, setelah menelusuri rujukan di kitabnya, dia pun mengakui kebenaran yang disampaikan Bukhari. Sesungguhnya hadis itu diriwayatkan dari Az Zubair, bukan Abu Zubair.

Kekuatan hafalannya juga diuji oleh para ulama dari Baghdad. Mereka menyiapkan 100 hadis yang dibolak-balik isi dan sanadnya. Seratus hadis dibagikan kepada 10 orang yang masing-masing menanyakan 10 hadis berbeda kepada Bukhari. Kenyataannya, dia mampu mengoreksi setiap hadis hanya dengan sekali dengar.

Perjalanan Menuntut Ilmu

3-wise-men

3-wise-men

Bukhari sudah mengerahkan waktu dan tenaganya dalam menuntut ilmu sejak sebelum balig. Dia senantiasa mendatangi majelis-majelis ilmu. Dia juga hafal Alquran dan beberapa karya tulis ulama. Karya tulis yang pertama kali dihafalnya yakni buku Abdullah bin Al Mubawak dan buku Waki’ bin Jarrah. Adapun disiplin ilmunya menyangkut masalah fikih dan pendapat.

Sebagaimana muhaddits lainnya, dia juga ingin menapaki negara-negara Islam demi menuntut ilmu. Akhirnya, dia memulai rihlah atau perjalanannya yang pertama saat berusia 16 tahun. Kala itu, dia pergi ke Mekkah bersama ibu dan kakaknya dalam rangka menunaikan ibadah haji. Selepasnya, Bukhari menetap sementara di dekat Baitullah.

Seumur hidupnya, dia telah dua kali mengunjungi Syam, Mesir, dan Al Jazirah (kota-kota di sekitar Dajlah da Eufrat). Dia juga sudah mengunjungi Basrah sebanyak empat kali. Tidak terhitung berapa kali dia memasuki kawasan Kufah dan Baghdad bersama muhadditsin lainnya. Pria yang menuliskan At Tafsir Al Kabir itu juga pernah tinggal di Hijaz selama beberapa tahun.

Imam Bukhari wafat di usia 62 tahun pada 31 Agustus 870 M, tepatnya pada malam Idul Fitri. Meskipun jasadnya telah terkubur sejak berabad-abad yang lalu, tapi ilmu dan jasanya masih terus tegak di bumi.

Referensi:

http://www.alquran-sunnah.com/artikel/ulama/biografi-ulama/458-biografi-imam-bukhari

http://muslim.or.id/640-mengenal-imam-bukhari.html

 

Tinggalkan Balasan