Inilah Mengapa Islam dan Ilmu Pengetahuan Merupakan Hal yang Tidak terpisahkan

Islam merupakan ajaran yang sangat mengedepankan ilmu dalam segala hal,  untuk kehidupan dunia dan – terlebih – untuk kehidupan akhirat. Banyak pujian yang Allah berikan kepada orang-orang yang berilmu. Allah pun mengecam orang-orang yang tidak mau tahu dan bersikap masa bodoh dalam melakukan atau membicarakan sesuatu. Islam dan ilmu pengetahuan pun menjadi hal yang tidak terpisahkan.

Kitab Kitab

Pentingnya Ilmu di Dalam Islam

Allah menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada Allah. Allah pun mengharamkan segala bentuk ibadah, kecuali dalam bentuk yang telah Allah perintahkan melalui wahyu-wahyuNya. Selanjutnya, agar suatu ibadah dapat diterima oleh Allah, ibadah tersebut harus memenuhi dua syarat.

Pertama, ibadah tersebut harus dilakukan secara ikhlas, yaitu ditujukan kepada Allah saja. Hal ini merupakan inti dari ajaran Islam, yaitu tauhid, lawan dari kesyirikan. Kedua, ibadah tersebut juga harus sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Sejak diutusnya Muhammad bin Abdullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, segala tata cara ibadah pun harus sesuai dengan petunjuknya sampai akhir zaman. Syarat kedua ini disebut sebagai ittiba’.

“perlu dipahami pula bahwa ilmu tidaklah sama dengan pengetahuan. Ilmu sendiri merupakan bagian dari pengetahuan. Dengan demikian, ilmu pasti merupakan pengetahuan”

Agar senantiasa terhindar dari kesyirikan, serta dapat selalu meneladani Rasulullah, umat Islam pun harus mempelajari Alquran dan sepak terjang Rasulullah (hadis). Hal ini tidaklah mungkin dilakukan tanpa melalui proses belajar. Tentu saja, tidak semua ilmu dalam Alquran dan hadis harus dipelajari oleh setiap muslim.

islamweb

Beberapa Pembagian Ilmu di Dalam Islam

Setiap muslim hanya diwajibkan (fardu ain) untuk mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah dan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Misalnya, sudah seyogyanya jika seorang muslim menuntut ilmu tentang tauhid, salat, puasa, zakat, haji, iman, maupun halal-haramnya makanan. Demikian pula, bagi seorang pedagang, sudah selayaknya jika dia menuntut ilmu tentang berbagai hukum perniagaan sebelum berdagang. Adapun, untuk ilmu-ilmu lainnya, sudah cukup jika dikuasai oleh sebagian orang yang mempelajarinya (fardu kifayah).

Selain itu, terdapat ilmu yang memerlukan dalil berupa nas, namun ada pula yang tidak. Ilmu-ilmu yang tidak memerlukan dalil disebut sebagai ilmu dharuri, yaitu ilmu tentang kenyataan yang berkaitan dengan indra. Misalnya, seseorang tidak memerlukan nas untuk mengetahui bahwa api bersifat panas, es bersifat dingin, atau air adalah zat cair.  Sebaliknya, seseorang memerlukan dalil dari nas yang sahih untuk dapat mengetahui hukum salat berjamaah, haramnya memakan daging hewan tertentu, dan sebagainya. Ilmu yang memerlukan dalil disebut ilmu nazhari.

Baca juga:

collectie_tropenmuseum_een_koranschool_op_java_tmnr_10002385

Perbedaan Ilmu dan Pengetahuan

Selanjutnya, mengingat eratnya hubungan Islam dan ilmu pengetahuan, perlu dipahami pula bahwa ilmu tidaklah sama dengan pengetahuan. Ilmu sendiri merupakan bagian dari pengetahuan. Dengan demikian, ilmu pasti merupakan pengetahuan. Adapun, pengetahuan belum tentu merupakan ilmu.

Berdasarkan tingkat kebenarannya, pengetahuan dapat dibagi menjadi 6 tingkatan,  yaitu

  1. Ilmu. Inilah tingkatan tertinggi dari pengetahuan. Seseorang yang berilmu berarti mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya.
  2. Kebodohan yang ringan. Pada tingkatan ini, seseorang mengetahui sesuatu secara pasti, tetapi tidak secara keseluruhan.
  3. Kebodohan yang berlipat. Tingkatan pengetahuan ini disematkan kepada seseorang yang memiliki pengetahuan, tetapi berlawanan dengan hakikat yang sebenarnya.
  4. Waham. Waham adalah pengetahuan atas sesuatu, namun masih memiliki kemungkinan yang berlawanan dengan kenyataan. Adapun, prosentase kemungkinan berlawanan dengan kenyataan masih lebih tinggi dari pada kesesuainnya.
  5. Keraguan. Keraguan timbul ketika memiliki pengetahuan dengan kemungkinan benar/salah yang sama-sama kuat.
  6. Prasangka. Tingkatan ini merupakan kebalikan dari waham. Prasangka merupakan pengetahuan dengan kemungkinan berlawanan dengan kenyataan. Hanya saja, prosentase kesesuaian prasangka dengan kenyataan justru lebih tinggi daripada kemungkinan berlawanan.

 

Demikianlah pentingnya ilmu di dalam Islam, sehingga Islam dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Rasulullah pun bersabda bahwa menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Jadi, sudahkah Anda menuntut ilmu hari ini?

 

Sumber:

Tinggalkan Balasan