Kaligrafi Diwany - kaligrafi-islam

Kebudayaan Islam: Mengenal Sejarah dan Jenis-Jenis Kalirafi

Salah satu kebudayaan Islam di bidang seni adalah kaligrafi. Rangkaian huruf Arab yang ditulis secara indah itu banyak menghiasi arsitektur Islami, khususnya masjid. Selain memanjakan mata, kaligrafi juga mengingatkan penikmatnya pada Ilahi.

Kaligrafi berasal dari bahasa latin, yaitu ‘kalios’ yang artinya indah, dan ‘graph’ yang artinya tulisan atau aksara. Secara keseluruhan memiliki arti ‘kepandaian menulis elok’. Dalam bahasa Arab disebut ‘khat’ yang berarti garis atau tulisan indah.

Kemunculan kaligrafi memiliki sejarah yang panjang. Awalnya, bangsa Arab memiliki tradisi menyampaikan informasi secara lisan. Wahyu pun disampaikan dari mulut ke mulut. Namun, sejak banyak huffaz yang meninggal pada tahun 633 M, wahyu mulai diabadikan dalam media tulisan. Pelopor penulisan wahyu adalah Umar bin Khattab.

Masyarakat Arab mulai menyadari pentingnya menyalin bahasa mereka ke dalam tulisan. Lambat laun, penulisan huruf Arab semakin berkembang menjadi semakin elok. Dikenallah khat atau kaligrafi yang kemudian terbagi lagi menjadi beberapa aliran.

Ibnu Nadim menyebutkan ada 40 jenis kaligrafi, sedangkan Muhammad bin Sulaiman al-Rawandi menyebutkan ada 70 jenis. Ada juga yang menyebutkan 150 jenis. Namun, hanya 6 jenis kaligrafi yang hingga kini paling familier di kalangan umat Muslim. Berikut ini ulasannya.

  • Kufi
alijlas kufi - pixabay

alijlas kufi – pixabay

Merupakan jenis kaligrafi tertua. Alquran pertama kali ditulis dengan gaya kufi. Ciri khasnya terletak pada goresannya yang kaku dengan sudut-sudut yang tegas. Dulunya memang ditorehkan di atas tulang; batu; dan pelepah kurma dengan menggunakan pisau.

Nama ‘kufi’ diambil dari nama kota di Irak, yaitu Kufah. Kaligrafi tersebut mengalami perkembangan mengagumkan pada masa Daulah Abbasiyah dengan tambahan ornamen khas. Kufi yang telah berkembang memiliki bentuk beragam, sedangkan kufi asli tidak bertitik dan tanpa hiasan.

Umat Islam patut bangga dengan kebudayaan Islam, khususnya kaligrafi. Keindahannya dikagumi oleh peradaban dari seluruh dunia.

Baca Juga:

Membuat kaligrafi - Obatrindu

Membuat kaligrafi – Obatrindu

  • Naskhi

Seiring maraknya penulisan Alquran, kaligrafi kufi pun berkembang menjadi lebih lentur bentuknya. Lahirlah jenis kaligrafi baru yang disebut ‘naskh’, artinya naskah. Memang penggunaannya untuk naskah Alquran.

Naskhi memiliki rangkaian yang lebih lembut dan mudah dibaca. Apalagi jika diberi syakal dan titik. Bentuknya datar mengikuti garis, tidak bertumpuk-tumpuk seperti tsuluts. Kini, naskhi menjadi tulisan baku di buku-buku dan karya ilmiah.

  • Farisi/Nastaliq
Kali Grafi farsi - wikimedia

Kali Grafi farsi – wikimedia

Nama ‘farisi’ diambil dari kata ‘farsi’ (Persia). Kemunculannya memang dari negara itu. Adapun kata ‘ta’liq’ dipakai karena gaya penulisannya yang mirip catatan kaki, miring ke bawah dari kanan ke kiri. Namanya digabungkan menjadi nastaliq karena fungsinya seperti naskhi, sebagai tulisan sandar dari buku-buku baku.

Setiap huruf memiliki ketebalan berbeda. Oleh karena itu, menuliskannya bisa sampai membutuhkan dua mata pena.

  • Tsuluts

Merupakan jenis kaligrafi yang paling mewah dan elegan. Syarat seseorang digelari ‘khattaat’ ketika mampu menuliskan kaligrafi bergaya tsuluts. Adapun kaligrafi tsuluts terbagi lagi menjadi dua jenis:

Tsuluts ‘aady: Ditulis dengan gaya biasa menggunakan pena berukuran minimal 4 milimeter. Tsuluts ‘aady jarang dibentuk menjadi rangkaian yang rumit.

Tsuluts jaliy: Jenis ini lebih indah daripada tsuluts ‘aady. Ditulis dalam bentuk yang rumit, dirangkai bersusun-susun, berpantulan, atau mengambil bentuk binatang. Pena yang digunakan berukuran dua kali lipat daripada tsulus sebelumnya.

  • Diwany
Kaligrafi Diwany - kaligrafi-islam

Kaligrafi Diwany – kaligrafi-islam

Gara-gara keindahannya, jenis kaligrafi ini sempat dirahasiakan oleh Daulah Usmaniyah. Selepas penaklukkan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih, Diwany pun mulai dipublikasikan secara terbatas di dokumen-dokumen resmi kerajaan Usmaniyah.

Diwany memiliki tiga aliran gaya, yakni gaya Turki, Mesir, dan Baghdad. Ciri khasnya adalah keluwesannya dan huruf-hurufnya yang memutar.

Diwany pun dikreasikan lagi menjadi Diwany jaliy. Hiasannya lebih variatif dengan ciri khas berupa mahkota di kepala huruf.

  • Riq’ah

Riq’ah memiliki pola yang sangat sederhana sehingga mudah dipelajari. Ciri khasnya yakni tidak menggunakan harakat dan hiasan. Khat tersebut bahkan bisa ditorehkan dengan cepat, tapi konsekuensinya adalah ketiadaan ruh sebagai sebuah karya seni.

Umat Islam patut bangga dengan kebudayaan Islam, khususnya kaligrafi. Keindahannya dikagumi oleh peradaban dari seluruh dunia.

 

Referensi:

Majalah Hidayah Edisi 30 Tahun 2004 hal. 108

https://kaligrafi–islam.blogspot.co.id/2015/01/jenis-jenis-khat-arab-kaligrafi-islam.html

 

Tinggalkan Balasan