Mengajar Si Kecil Makna Ibadah Haji

Mengenal Beragam Jenis Bid’ah dalam Manasik Haji

Sebagai salah satu rukun Islam, ibadah haji bukan hanya wajib dijalankan (bagi yang mampu), melainkan juga harus sesuai aturan yang berlaku. Bagaimanapun, setiap jemaah harus mampu memahami aturannya, agar ibadahnya sempurna. Nah, kita mengenal manasik haji sebagai sebuah pelatihan pelaksanaan haji yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan Departemen Agama. Tujuannya, agar jemaah mendapat “perbekalan” ilmu perihal tata cara ibadah haji, sehingga mempermudah praktik langsung ketika berada di Tanah Suci. Adapun penyelenggaraan manasik haji beragam, mulai dari cara menggunakan kain ihram, tawaf, hingga melempar jumrah. Seluruhnya, akan diperagakan dengan detail.

haji

Ibadah Haji

Adapun beberapa bidah yang dikenal dalam manasik haji, meliputi:

Keberangkatan

  • Walimatus safar sebelum keberangkatan; mengazankan orang-orang yang berangkat haji; serta mengiringi mereka dengan zikir yang dikerjakan dengan suara keras dan berjamaah.
  • Menunaikan ibadah haji lantaran ingin orang-orang memanggilnya dengan gelar “Haji” atau “Hajjah”.
  • Membuat surat atau mahram palsu.

Salah satu yang harus dihindari adalah membuat surat atau mahram palsu

Baca juga:

Badal Haji

Belajar Manasik Haji (masjidagunggresik.com)

Sampai di Tanah Suci

  • Salat di mikat setelah asar atau fajar, dan memasuki Makkah tanpa menggunakan pakaian ihram (bagi mereka yang ingin umrah atau menunaikan ibadah haji). Bagi sebagian jemaah haji, terdapat larangan untuk mengganti pakaian ihram yang dikenakan dari mikat, meski kotor.
  • Salat dua rakaat atau empat rakaat saat menunaikan ibadah haji, yang benar adalah sunah.
  • Memotong janggut saat ihram. Adapun “ihram” yang dimaksud di sini, adalah ketika seseorang telah mengenakan pakaian/kain ihram. Sebenarnya, ihram adalah berniat dalam hati untuk manasik. Jadi, seseorang yang masuk Tanah Suci tanpa niat, tidak bisa disebut/dinamakan muhrim, walaupun ia sudah memakai kain ihram.
  • Jemaah haji wanita memakai kedua sarung tangan saat ihram atau bahkan memakai cadar. Padahal, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah seorang wanita bercadar dan memakai kedua sarung tangan.”
  • Mengucapkan doa khusus saat tawaf, bahkan mengulanginya dengan suara berjemaah. Bukan hanya mengganggu orang-orang yang sedang salat, sesungguhnya tidak ada doa khusus yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika tawaf.
  • Berdesakan di Hajar Aswad hingga menyakiti orang lain. Bagaimanapun, tidak disyariatkan berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad. Bagaimanapun, mencium Hajar Aswad adalah sunah bagi orang yang tawaf saja. Bila tidak memungkinkan, cukup dengan mengisyaratkan menggunakan tangan.
  • Beranggapan bahwa sai tidaklah sempurna sebelum berhasil naik ke puncak Bukit Shafa atau Marwah. Ada pula yang melakukan sai sebanyak 14 kali putaran, dan sesudah sampai di puncak bukit, jemaah akan bertakbir seperti salat. Hal ini tidak diperlukan, sebab cukup naik ke bukit Shafa atau Marwah sudah dibolehkan. Adapun yang dianjurkan bukanlah bertakbir seperti salat, melainkan berdoa memuji Allah SWT sembari menghadap kiblat.
  • Mencukur atau memendekkan sebagian rambut kepala dan menyisakan yang lain. Adapun diwajibkan untuk mencukur semua rambut, entah dengan cara memotong bersih atau justru memendekkannya sencara utuh, dengan cara memulai cukur dari rambut yang kanan.
  • Meyakini bahwa batu saat melempar jumrah haruslah mengenai tiang. Sah atau tidaknya lemparan tidak selalu ditentukan dari terlemparnya batu tepat di tiang jamarat. Sesungguhnya, tiang itu hanyalah “tanda” atau patokan atas lemparan batu.
  • Menitip/mewakilkan lemparan jumrah pada jemaah lain, lantaran tidak ingin berdesakan. Bagaimanapun, tidak boleh mewakilkan lemparan jumrah, kecuali jemaah dalam keadaan tidak mampu–seperti halnya sakit.
  • Melempar jumrah sekaligus dengan dua, empat, atau justru tujuh batu. Lemparlah jumrah sebanyak tujuh kali, dengan mengucapkan “Allahu Akbar” di setiap kali lemparan.
  • Berdoa dan mengusap kuburan Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mendapatkan berkah, rezeki, dan lain-lain. Ini merupakan perbuatan syirik terlarang.
Naik Haji

Pelajari Tata Cara Haji

Selain membutuhkan bekal “uang”, ibadah haji juga membutuhkan bekal ilmu yang cukup. Adapun penjabaran tentang sejumlah bidah dalam manasik haji diharapkan mampu memandu Anda menjadi haji yang mabrur dan diridai Allah SWT.

Tinggalkan Balasan