Umroh Reguler Surabaya

Mengupas Tuntas Esensi Ibadah Haji

Di dunia ini, tidak ada yang bisa menyamai kegiatan ibadah haji yang rutin dijalankan setiap tahun oleh umat Islam. Baik dari segi jumlah peserta, lamanya ibadah, dan tata cara ibadah haji yang membuat banyak orang takjub. Bukan hanya seluruh orang Islam di berbagai belahan dunia saja yang takjub, tapi juga orang-orang nonmuslim lainnya. Bayangkan, jutaan orang berkumpul untuk beribadah di satu tempat, bercampur tanpa membedakan ras, warna kulit, dan strata sosial.

Umroh dan Haji

Umroh dan Haji

Lalu, apakah sebenarnya haji? Esensinya, haji adalah evolusi manusia menuju Allah, kembalinya manusia kepada Allah. Sebuah demonstrasi simbolis dari filosofi penciptaan manusia pertama, Nabi Adam As. Proses ibadah haji mencakup banyak hal. Di dalamnya terdapat hikmah penciptaan manusia, sejarah yang panjang, dan simbol kesatuan umat. Haji menunjukkan ideologi Islam yang mencakup banyak hal, seperti yang tertulis di dalam Alquran:

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji… agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka …” (QS. Al-hajj: 27-28)

Haji adalah kewajiban dari Allah bagi umat Islam yang mampu untuk berangkat ke Baitullah, seperti dalam surat Ali Imran ayat 97. Ini adalah tugas dari Allah, bukan hanya bagi yang mampu dari segi harta, tapi juga ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi, seperti berakal sehat, balig, sehingga memahami ibadah yang harus dilakukannya, berbadan sehat untuk menyelesaikan semua proses dalam haji, dan seseorang yang merdeka.

Rukun Haji ada lima, yaitu ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sai, dan mencukur rambut. Rukun tersebut haruslah dijalankan secara berurutan dan menyeluruh. Jika salah satu dari Rukun Haji yang tidak dilakukan, maka hajinya tidak sah.

Sementara itu, ada juga Wajib Haji, yang bila tidak dilaksanakan tetap sah, jemaah namun diharuskan membayar dam (hukuman). Wajib haji adalah memulai ihram dari Miqat, melontar jumroh, mabit di Mina dan Muzdalifah, dan tawaf wada’.

Bulan-bulan yang diperbolehkan untuk haji ada tiga berdasarkan kalender Islam, yakni bulan Syawal, Zulkaidah, dan 10 hari pertama bulan Zulhijah. Artinya, seseorang tidak bisa memakai ihram sebelum Syawal.

Umrah dan Haji Ramadhan

Haji Meneladani Nabi

Cara Melakukan Haji dan Umroh

Haji dan Umroh dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  1. Ifrad: menunaikan haji lebih dulu, kemudian melaksanakan umroh.
  2. Tamattu: melakukan umroh terlebih dulu, lalu melaksanakan haji, bisa pada tahun yang sama dengan beberapa istirahat di antara jarak keduanya.
  3. Qiran: seseorang yang berniat ihram dengan menggabungkan haji dan umroh tanpa ada jeda di antara keduanya.

Etika Haji

Selain itu, ada 10 etika haji yang harus kita lakukan selama menunaikan haji.

  • Berhenti melakukan kesalahan dan berjanji tidak akan
  • Membuat niat untuk melakukan haji dari kekayaan yang halal.
  • Mempelajari Rukun Haji dan tata cara ibadah haji.
  • Jadilah orang yang baik dan sabar dengan orang lain, jangan sampai pahala berkurang karena hal ini.
  • Menjadi orang dengan tangan terbuka, siap menolong orang yang tidak mampu dengan memberikan sebanyak yang orang fakir tersebut perlukan.
  • Saat di padang Arafah, ingatlah akan hari kiamat.
  • Jangan sampai terlewat mengunjungi makam Rasulullah di Madinah.
  • Sekembalinya dari haji, seseorang harus mengubah arah hidupnya menuju akhirat.
  • Harus mengingat orangtua dan kerabat dekat lainnya yang telah berpulang dengan mendoakannya, jika mereka belum sempat memenuhi kewajibannya untuk haji, maka wujudkanlah.

Tata Cara Ibadah Haji dan Esensinya

Adapun tata cara ibadah haji dan esensinya adalah sebagai berikut:

1. Melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan

Pada titik ini, seluruh manusia harus mengganti pakaiannya dengan kain ihram. Kain yang menghilangkan individualitas, status, dan perbedaan sosial lainnya. Di sini, Anda dan yang lainnya adalah keturunan nabi Adam, yang suatu hari pasti kembali kepada Allah dengan kain putih, yakni kain kafan. Miqat adalah awal perjalanan haji.

Selanjutnya setelah membaca niat, tidak ada lagi nafsu duniawi seperti seks, tidak ada lagi parfum, sepatu, kain yang berjahit, tidak ada lagi menggunting rambut dan kuku, tidak berburu binatang, bahkan mencabut rumput pun dilarang. Semua ego diri Anda dikuburkan di miqat dan fokus pada tujuan dasar penciptaan manusia, untuk menjadi hamba Allah. Semua ibadah yang Anda lakukan untuk Allah semata.

Kemudian berangkat dengan membaca talbiah. Lebih utama memasuki Mekkah pada siang hari. Setiap langkah Anda mendekati rumah Allah, hati terasa bergetar karena rasa takut dan rasa cinta. Cinta, karena setelah sekian lama Anda bisa sampai ke sini. Takut, karena tak tahu apakah umur Anda bisa melalui semua proses haji atau tidak.

Saat melihat Kakbah, dianjurkan untuk berdoa. Ini adalah rumah Allah yang suci, arah ke mana wajah Anda dihadapkan ketika meninggal nanti. Tempat ini adalah pusat dari keberadaan iman, cinta, persatuan, dan kehidupan umat Muslim. Nabi Ibrahim juga berdoa memohon keamanan dan keberkahan di depan Kakbah.

2. Tawaf yaitu mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali

Filosofi yang sama seperti planet-planet yang mengelilingi matahari sesuai orbitnya, Anda juga mengelilingi matahari dunia, Kakbah.

Tawaf dimulai dari sudut Hajar Aswad dengan posisi Kakbah di sebelah kiri. Fenomena tawaf yang luar biasa, tempat ribuan manusia bergerak bersama secara teratur, melambangkan kepatuhan kepada Sang Pencipta dan kesatuan umat Islam tanpa batas-batas sosial. Semua sama di hadapan Allah.

Tiga yang pertama dari tujuh tawaf harus lebih cepat dari jalan biasa. Anda harus mencoba menyentuh Hajar Aswad dengan tangan, menyentuhkan dahi dan mencium batu yang dikirim oleh Allah langsung dari surga-Nya. Setelah tawaf, lakukanlah salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Ini merupakan tempat yang makbul untuk berdoa.

3. Sai di antara bukit Safa dan Marwa

Sai secara harfiah berarti pencarian, bergerak untuk sebuah tujuan. Seperti Siti Hajar yang berupaya mencari air untuk bayi Ismail. Mereka ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah di tempat yang tidak ada air dan makanan. Namun, karena keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka begitu saja tanpa sedikit pun rejeki, maka berlarilah Siti Hajar bolak-balik ke bukit Safa dan Marwa untuk mencari air. Setelah tujuh kali pulang pergi di antara dua bukit, Allah memancarkan air di dekat kaki Ismail. Mata air Zam-Zam yang hingga kini terus mengalir, kaya akan mineral dan menjadi obat bagi yang meminumnya.

4. Berangkat ke Arafah

Setelah hari ketujuh Zulhijah, setelah salat zuhur, imam menjelaskan makna haji dan menganjurkan untuk pergi ke Mina keesokan pagi setelah salat subuh. Dan keesokan harinya pergi ke Arafah dan memohon ampun kepada Allah. Seperti Siti Hawa dan Nabi Adam yang harus terpisah di bumi setelah turun dari surga, kemudian bertemu di padang Arafah. Lalu keduanya bersyukur dan memohon ampun atas kekhilafan mereka.

5. Berangkat ke Muzdalifah

Setelah matahari terbenam, segeralah berangkat ke Muzdalifah. Menghabiskan malam sebelum Idulfitri di Muzdalifah. Berdoa di awal fajar dan mengumpulkan 70 kerikil untuk melempar jumroh.

Mudzalifah adalah bagian dari Mash’ar-ul-Haram. Mash’ar secara harfiah adalah kesadaran atau pemahaman. Di sinilah tempat merenung dan memperkuat semangat Anda. Bersiap untuk melawan setan, seperti Nabi Ibrahim melawan setan dengan kerikil ketika beliau hendak mengorbankan anaknya tercinta.

Syarat dan Rukun Haji/ Umroh

Syarat dan Rukun Haji/ Umroh

Telepon genggam akan sangat berguna bila Anda tersesat atau terpisah dari rombongan.

Baca juga:

6. Melempar jumroh

Kembali ke Mina dan melempar tujuh batu di Jumrotul Aqaba dengan membaca takbir setiap kalinya. Sisa 63 batu harus dilemparkan selama tiga hari berikutnya pada hari Tasyrik, sebanyak 21 batu setiap harinya. Melempar dengan penuh gelora, seperti tengah mengusir setan yang membisiki rayuan untuk berpaling dari perintah Allah.

7. Berkurban

Hari kesepuluh telah tiba, saatnya pengorbanan dengan memotong hewan kurban. Mina secara harfiah artinya “cinta.” Seperti Nabi Ibrahim yang mencintai anak laki-lakinya, Ismail. Ibrahim menangkap maksud dan tujuan Allah saat memerintahkan beliau menyembelih Ismail, tidak lain untuk menguji kecintaannya kepada Allah. Sungguh besar rasa cinta Nabi Ibrahim kepada Allah. Beliau begitu patuh menaati perintah Allah, yang bahkan sebelumnya telah pula memerintahkan untuk mengasingkan istri dan bayinya di dataran tandus. Ternyata keimanan Nabi Ibrahim terpatri sama kuatnya dalam dada Nabi Ismail, yang dengan kuat hati mempersilakan ayahnya untuk menyembelih dia, jika memang itu adalah perintah Allah. Keimanan yang menakjubkan.

Hal itu pula yang Allah harapkan dari Anda dan kita semua, yaitu meneladani sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berhasil menyingkirkan penghalang (setan dan ego), dan mengorbankan hal penting demi meraih cinta Allah.

8. Tahalul

Tahalul adalah berlepas diri dari ihram haji setelah selesai melaksanakan amalan ibadah haji. Tahalul awal dilaksanakan setelah jumroh Aqabah, dengan mencukur rambut sekurang-kurangnya tiga helai. Tahalul kedua boleh dilakukan setelah selesai melaksanakan sai. Setelah itu, bebaslah seluruh perbuatan yang dilarang selama ihram.

Itulah esensi dari seluruh ibadah haji yang diperintahkan Allah. Tidak ada yang sia-sia dari perintah Allah. Haji akan menempa karakter seorang hamba yang patuh dan beriman seperti Nabi Ibrahim dan Ismail, berjuang dengan keras seperti Siti Hajar, dan menjadi sosok yang mampu mengalahkan ego dan rayuan setan. Kembali kepada Allah dengan sebenar-benarnya penghambaan.

Sumber:

http://www.Islamicity.org/8010/the-soul-of-hajj/

Tinggalkan Balasan