Inilah 2 Pengertian Sunnah Harus Anda Ketahui Agar Tidak Gagal Paham

“Menurut sunnah, apabila seorang wanita telah memasuki masa balig, tidak ada yang boleh terlihat darinya (oleh nonmahram) kecuali muka dan telapak tangan.”

Apabila pernyataan tersebut disampaikan kepada Anda, bagaimanakah respons yang akan Anda berikan? Jika Anda mendengar dan patuh, berbahagialah Anda. Sebaliknya, jika Anda justru berkata “Ah, itu ‘kan sunnah, tidak wajib!”, berarti Anda gagal paham. Anda harus mempelajari dua pengertian sunnah berikut ini.

berdoa

berdoa

Homonim dalam Tata Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, dikenal istilah homonim, yaitu dua kata yang memiliki penulisan dan pengucapan yang sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Misalnya, bisa. Ketika membicarakan gigitan ular, ‘bisa’ merupakan zat beracun yang dapat membahayakan nyawa Anda. Adapun, ketika Anda membicarakan konteks keberdayaan,  ‘bisa’ berarti mampu untuk melakukan sesuatu.

Jadi, ketika seseorang yang baik berkata “Saya bisa memegang Anda,” lalu Anda takut keracunan, berarti Anda gagal paham. Sebaliknya, jika Anda telah memahami prinsip homonim, Anda tidak akan kebingungan memahami kalimat “Seekor ular bisa mengeluarkan bisa.”

caravan-339564__340

Pengertian Sunnah Menurut Syariat

Dalam syariat Islam, terdapat juga istilah-istilah yang memiliki homonim, misalnya sunnah. Istilah tersebut ditemukan dalam ilmu ushul fiqih dan ilmu mushthalah hadits.

Dalam ilmu ushul fiqih, sunnah merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah, tetapi tidak secara wajib. Sesorang yang mengerjakan amalan sunnah akan memeperoleh pahala, jika dia melakukannya dalam rangka melaksanakan perintah. Adapun, jika tidak melaksanakan perintah tersebut, dia pun tidak akan dihukum.

Ingatlah, ketika para wanita diperintahkan untuk berhijab, para sahabat dari kalangan wanita pun segera mengambil kain-kain di dekat mereka untuk menutup auratnya

Sementara itu, dalam ilmu mushthalah hadits, sunnah merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Baik berupa perkataan, perbuatan, pesetujuan/pertidaksetujuan, ataupun sifat. Dengan kata lain, sunnah di sini sama dengan hadis. Kedudukannya sama seperti Alquran, yaitu sebagai sumber hukum. Di dalamnya, terdapat perintah, larangan, pengkondisian, maupun pembolehan. Oleh karena itu, pernyataan di dalam sunnah bisa saja berhukum wajib, sunnah, mubah, makruh, ataupun haram.

Selanjutnya, di antara prinsip ushul fiqih yang perlu Anda ketahui, segala perintah – pada dasarnya – menunjukkan kewajiban, kecuali jika ada dalil lain yang menunjukkannya sebagai sunnah. Demikian pula, segala bentuk larangan menunjukkan keharaman, kecuali terdapat dalil lain yang membuatnya dihukumi makruh.

Baca juga:

Bahagia

Suami Isrtri Bahagia

Meneladani Para Sahabat dalam Mengikuti Sunnah

Telah masyhur diketahui bahwa generasi sahabat adalah generasi terbaik umat Islam. Merekalah orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyertai sang nabi, menyaksikan turunnya wahyu, dan paling memahami maksud perkataan dan gerak gerik nabi. Merekalah generasi yang paling memahami agama Islam, langsung dari Nabi Muhammad. Mereka rida dengan segala syariat Allah, dan Allah pun meridai mereka.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mengikuti jejak langkah mereka dalam mengikuti sunnah. Ketika mendengar perintah, mereka segera melaksanakan tanpa mendebat hukum amalan tersebut. Demikian pula, ketika turun larangan, mereka langsung meninggalkan tanpa mencari penangguhan dan mengharapkan makruhnya larangan tersebut.

Ingatlah, ketika para wanita diperintahkan untuk berhijab, para sahabat dari kalangan wanita pun segera mengambil kain-kain di dekat mereka untuk menutup auratnya. Mereka merobek tirai-tirai demi melaksanakan perintah Allah. Demikian pula, para sahabat ikut tertawa ketika Rasulullah tiba-tiba tertawa setelah membaca ayat tertentu.

Selanjutnya, para sahabat juga tidak pernah lelah untuk menuntut ilmu. Mereka bersemangat untuk terus mendengarkan wahyu-wahyu Allah dan meneladani Rasulullah. Bukan hanya secara langsung, tetapi juga dengan menanyakannya kepada sahabat yang lain. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui hukum pasti dari sebuah amalan. Mereka bersemangat untuk belajar, mengamalkan ilmu, dan menyebarkannya kepada orang lain.

Dengan meneladani jejak langkah sahabat, Anda tengah berupaya untuk bergabung ke dalam al-jama’ah, sebagaimana diharapkan oleh Nabi. Abdullah bin Mas’ud – salah satu sahabat yang mulia – berkata “Al-jama’ah adalah engkau mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.” Oleh karena itu, berupayalah untuk mengikuti sunnah, meskipun ditentang oleh kebanyakan orang di sekitar Anda.

***

Sekarang, Anda tentu tidak bingung lagi ‘kan dengan pengertian sunnah?

 

Sumber:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Mushtalah Hadits.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Ushul Fiqih.
https://almanhaj.or.id/2263-pengertian-as-sunnah-menurut-syariat.html
https://almanhaj.or.id/2974-perintah-untuk-mengikuti-sunnah-rasulullah-dan-larangan-dari-fanatisme-dan-taqlid.html
https://almanhaj.or.id/1276-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html
http://muslim.or.id/22111-setiap-muslim-wajib-mengikuti-dalil.html
http://pustakaimamsyafii.com/definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html
http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/para-shahabat-adalah-hujjah.html

Tinggalkan Balasan