Dar Al Tawhid

Inilah Prosedur Pengurusan Jamaah Haji yang Meninggal di Tanah Suci

Haji merupakan ritual ibadah yang melelahkan. Ada rukun-rukun haji yang membutuhkan kondisi fisik prima saat melakukannya. Ditambah lagi perbedaan kondisi lingkungan yang ekstrem antara Indonesia dengan negara Arab Saudi. Maka tidak heran jika setiap tahun selalu ada jemaah haji meninggal atau sakit di tanah suci saat pelaksanaan haji.

Prosedur Pengurusan Jenazah

Paket Haji dan Umroh

Pengurusan Jamaah Meninggal Saat Haji

  • Prosedur pengurusan jenazah jemaah haji di Arab Saudi sebenarnya sederhana dan mudah. Jika ada jemaah haji meninggal, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melapor kepada ketua kloter/muthawwif. Kemudian ketua kloter akan memeriksa jenazah ditemani oleh dokter untuk memastikan dan mencatat sebab-sebab kematian jenazah. Ketua kloter juga memberikan informasi tentang jenazah seperti nama, penerbangan, waktu kematian, dan lain-lain kepada manajemen penyelenggara haji Indonesia di Arab Saudi supaya diinformasikan pada keluarga/ahli waris.
  • Setelah itu, ketua kloter akan melapor ke Maktab dan daerah kerja/Pihak muassasah, yang bekerja sama dengan waziratul hajj atau Kementerian Haji Arab Saudi, akan membuatkan surat keterangan kematian dari rumah sakit. Surat keterangan kematian ini dapat dikeluarkan 2 hingga 4 jam setelah pasien dinyatakan meninggal di rumah sakit. Untuk kasus kematian di luar rumah sakit, prosesnya lebih lama karena harus mendapatkan surat konfirmasi dari kepolisian terlebih dahulu. Setelah semua proses tersebut selesai, maka dilakukan pengurusan dokumen ke konsulat Indonesia di Jeddah. Dokumen yang dimaksud adalah surat izin pemakaman.
  • Jemaah haji yang meninggal akan diurus pemakamannya oleh muassasah. Jenazah Jemaah haji yang meninggal biasanya dimakamkan di makam umum luar kota Makkah atau Madinah. Pengurusan jenazah seperti memandikan, mengkafani, hingga menguburkan dilakukan oleh pihak penyelenggara pemulasara jenazah yang dilakukan oleh yayasan-yayasan swasta di Arab Saudi dan bersifat gratis. Petugas pemakaman biasanya akan meminta uang tip yang bisa diberikan seikhlasnya.

Jenazah Jemaah haji yang meninggal biasanya dimakamkan di makam umum luar kota Makkah atau Madinah

Baca juga:

Foto Kakbah

Badal Haji bagi Jemaah Meninggal

  • Saat jenazah diserahkan oleh pihak rumah sakit kepada ketua kloter dan ahli waris, petugas dari yayasan akan menanyakan apakah jenazah disalatkan di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Jika ingin disalatkan di Haram, harus ada minimal 2 orang yang menyertai dan ada biaya yang harus dibayarkan oleh pihak keluarga. Pihak penyelenggara akan memberikan surat keterangan untuk masuk ke Haram. Tanpa surat ini, jenazah dan rombongan tidak akan bisa masuk. Dari tempat pemandian, jenazah akan dibawa ke Masjidil Haram menggunakan mobil jenazah dan menunggu untuk masuk di antara jembatan lantai 2 pintu Safa dan Hotel Safwa Tower, atau di jalan Ajyad. Jenazah akan diusung bersama-sama oleh para jemaah haji melalui pintu Babul Ismail.
  • Jika tidak ingin disalatkan di Haram, keluarga bisa menyertai jenazah di tempat pemandian atau menyerahkan segala sesuatunya kepada petugas. Para wanita tidak diperbolehkan ikut ke tempat pemandian jenazah maupun ke lokasi pemakaman. Sebelum dimandikan, jenazah dibawa dulu ke tempat registrasi kubur. Di Makah terdapat kuburan umum yang biasa dipakai untuk Jemaah haji meninggal, yakni Ma’la dan Tsurayya. Sedangkan bila disalatkan di Masjid Nabawi, Madinah, maka jenazah akan dimakamkan di pemakaman al Baqi.
  • Setelah dikuburkan, ketua kloter harus mencatat nomor kubur. Proses berikutnya adalah mendapatkan sertifikat kematian melalui yayasan yang biasanya diperoleh dalam waktu 14 hari sampai 1 bulan. Sertifikat tersebut diserahkan ke konsulat Indonesia untuk diverifikasi dan diterjemahkan. Sertifikat ini juga akan digunakan ahli waris untuk mengklaim harta dan barang milik jenazah.
Umroh Reguler Surabaya

Syarat dan Rukun Haji

Berkaitan dengan jemaah haji yang meninggal, pemerintah Arab Saudi membuat peraturan bahwa jemaah yang meninggal di tanah suci harus dimakamkan di sana dan tidak boleh dibawa ke negara asal. Hukum utama menguburkan jenazah seorang muslim adalah di kuburan kaum muslimin tempat dia meninggal. Hal ini juga berkaitan dengan jarak tempuh yang jauh yang dapat memperlambat pengurusan jenazah dan dapat merusak kondisi jenazah.

Tinggalkan Balasan