Bingung Dengan Perbedaan Hadits dan Sunnah? Inilah jawabannya!

Hadits dan sunnah bisa memiliki makna yang sama maupun berbeda, tergantung dari konteks yang sedang dipakai. Oleh karena itu, sebelum lebih lanjut membahas tentang perbedaan hadits dan sunnah, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa sunnah dan hadits bisa berarti sama. Hal tersebut terjadi ketika membicarakan sunnah sebagai sumber hukum.

Sunnah – atau hadits – adalah sumber hukum yang kedua, setelah Alquran. Sunnah merupakan segala sesuatu yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan/pertidaksetujuan, maupun sifat.

Sementara itu, sebagai sumber hukum, sunnah merupakan sumber hukum umat Islam setelah Alquran. Dalam pengertian ini, sunnah disebut juga sebagai hadits.

Sebagai sumber hukum, sunnah dapat berisi perintah, larangan, maupun pembolehan. Dengan demikian, segala yang disebutkan di dalam sunnah merupakan hal-hal yang disyariatkan di dalam Islam. Adapun, hukum sesuatu yang diterangkan di dalam sunnah bisa saja wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram.

imam khalid

imam khalid

Dari penjelasan singkat di atas, kita bisa menelaah perbedaan hadits dan sunnah dari tiga tinjauan berikut ini.

Pengertian dari tinjauan hukum dan sumber hukum

Sebagai hukum, sunnah berarti suatu amalan yang diperintahkan oleh Allah, tetapi tidak bersifat wajib. Dengan demikian, Anda akan memperoleh pahala jika melakukan amalan tersebut, jika dilandasi niat untuk melaksanakan perintah. Adapun, ketika Anda tidak melaksanakan amalan tersebut, Anda pun tidak berdosa. Sunnah – sebagai hukum – dikenal pula dengan istilah mandub, masnun, mustahab, dan nafl. Sementara itu, sebagai sumber hukum, sunnah merupakan sumber hukum umat Islam setelah Alquran. Dalam pengertian ini, sunnah disebut juga sebagai hadits.

Sebagai contoh, Anda dapat menyatakan bahwa salat rawatib merupakan salat yang dihukumi sunnah (mustahab). Keterangan tentang hal ini dapat Anda temukan di dalam hadits. Demikian pula, panduan rinci salat wajib lima waktu juga dapat Anda temukan di dalam sunnah (hadits).

Baca juga :

belajar ilmu agama

belajar ilmu agama

Hubungan antara sunnah sebagai hukum (mustahab) dan sunnah sebagai sumber hukum (hadits)

Segala amalan yang dihukumi mustahab, pasti telah diterangkan di dalam hadits. Adapun, segala amalan yang diterangkan di dalam hadits, belum tentu dihukumi mustahab. Amalan tersebut bisa saja dihukumi wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram.

Misalnya, merujuk pada contoh sebelumnya, salat rawatib merupakan sebuah amalan sunnah. Petunjuk tentang hal ini dapat Anda temukan di dalam hadits. Ibadah salat wajib lima waktu pun dapat Anda temukan di dalam hadits. Walaupun demikian, Anda mengetahui bahwa salat tersebut dihukumi wajib.

Konsekuensi ketika tidak diamalkan

Ketika Anda meninggalkan amalan yang dihukumi sunnah, Anda tidak akan berdosa. Adapun, ketika Anda meninggalkan amalan yang diperintahkan oleh hadits, Anda harus melihat terlebih dahulu hukum dari amalan tersebut. Apabila amalan yang Anda tinggalkan merupakan amalan wajib, maka Anda berhak untuk mendapatkan hukuman (dosa).

Sebagai contoh, salat rawatib merupakan sebuah amalan sunnah. Anda tidak berdosa ketika meninggalkan amalan ini, selama Anda tidak mengingkari perintah salat rawatib. Adapun, menurut sunnah (hadits), salat magrib adalah salah satu salat wajib, berjumlah tiga rakaat, dan bisa dilakukan saat matahari mulai terbenam sampai benar-benar terbenam. Oleh karena itu, jika Anda meninggalkan salat magrib, menganggap bahwa salat magrib boleh dilakukan sejumlah satu rakaat saja, atau selalu melakukan salat magrib di siang hari, Anda pun bisa berdosa.

Demikianlah perbedaan hadits dan sunnah, dilihat dari tiga tinjauan. Pada akhirnya, nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan teladan terbaik, yang sangat patut untuk diikuti jejak langkahnya. Apa pun yang beliau lakukan bukanlah atas kehendak beliau sendiri, melainkan dituntun oleh wahyu dari Allah. Segala yang beliau lakukan pasti memiliki manfaat yang besar. Sebaliknya, hal-hal yang beliau tinggalkan tentunya memiliki mudarat yang lebih banyak daripada manfaatnya.

 

Sumber:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Mushtalah Hadits.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Ushul Fiqih.
https://almanhaj.or.id/2263-pengertian-as-sunnah-menurut-syariat.html
https://almanhaj.or.id/2974-perintah-untuk-mengikuti-sunnah-rasulullah-dan-larangan-dari-fanatisme-dan-taqlid.html
https://almanhaj.or.id/1276-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html
http://muslim.or.id/22111-setiap-muslim-wajib-mengikuti-dalil.html
http://pustakaimamsyafii.com/definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html
http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/para-shahabat-adalah-hujjah.html

Tinggalkan Balasan