Hukum Pernikahan dalam Islam

Hukum pernikahan dalam Islam dapat dikategorikan ke dalam beberapa tingkatan sesuai dengan kondisi orang yang akan melaksanakan pernikahan tersebut, yaitu sunah, wajib, haram, makruh, dan mubah.

Sunah

Dalil mengenai pernikahan banyak diuraikan di dalam Alquran. Salah satu yang menyuratkan tentang hukum sunah pernikahan adalah surah Annissa ayat 3, yang artinya:

“Maka kawinilah wanita-wanita yang kau senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian, jika kau takut tidak akan dapat berbuat adil, maka (kawinilah) satu orang saja, atau budak-budak yang kau miliki.”

“Menikah merupakan salah satu sunah dari Rasulullah. Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam ini tentu saja untuk dapat mengamalkan sunah Rasulullah Saw”

Isi surah tersebut menjelaskan, bahwa Allah Swt telah memerintahkan manusia untuk menikah, terutama laki-laki untuk menikahi para perempuan berdasarkan kemampuan yang dimiliki.

Dikatakan sunah karena di dalam ayat tersebut tidak ada kewajiban untuk menikah dengan satu, dua, tiga, atau dengan empat wanita sekaligus. Ayat tersebut hanya membolehkan seorang pria untuk menikah sesuai dengan kesanggupannya.

poligami

poligami

Wajib

Pernikahan dalam Islam wajib hukumnya jika seseorang dirasa tidak dapat menjaga kesucian dan akhlaknya. Dia dapat mengubah sikapnya tersebut dengan menikah, maka pernikahan bagi orang tersebut hukumnya wajib.

Hal ini sesuai dengan kaidah syariat yang menyatakan: “Bila suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib untuk dipenuhi.”

Haram

Hukum menikah di dalam Islam bisa menjadi haram jika pernikahan tersebut memiliki maksud atau tujuan yang tidak baik. Seperti, merusak fisik pasangan, memanfaatkan salah satu pasangan, menguasai harta pasangan, atau hanya sebatas untuk memuaskan nafsu saja. Kaidah syariat telah menegaskannya: “Segala perantara yang membawa kepada yang haram, maka hukumnya adalah haram.”

Makruh

Hukum pernikahan menjadi makruh apabila seorang calon suami memaksa menikahi sang istri dengan kondisi yang tidak memungkinkan, seperti menganggur dan tidak dapat memberi nafkah batin kepada istri.

Hal-hal tersebut jika tidak dikomunikasikan kepada istri akan menjadi makruh, tetapi jika calon istri menyetujui, pernikahan diperbolehkan untuk dilakukan.

Mubah

Pernikahan menjadi mubah bila kondisinya seseorang berada di tengah-tengah. Ada hal-hal yang mendorongnya untuk menikah, tetapi ada pula hal-hal yang mencegahnya untuk menikah.

Jika seperti ini, maka orang tersebut tidak dianjurkan untuk segera menikah, tetapi tidak ada larangan juga untuknya menikah. Hal yang seperti ini masuk ke dalam hukum mubah.

Hukum pernikahan dalam Islam memang mengikuti situasi yang sedang dihadapi, tergantung bagaimana kondisi calon mempelainya. Namun, masih banyak yang kemudian menyalah artikan ayat-ayat di atas untuk kepentingan pribadi.

Baca juga:

just married

just married

Selain hukum seperti di atas, Islam juga masih mengatur pernikahan secara terperinci lewat rukun menikah hingga akad nikah. Pernikahan dalam Islam juga tidak hanya mempersatukan dua insan saja. Dalam agama Islam, ada tujuan-tujuan lain yang bisa dicapai melalui pernikahan, seperti:

Terhindar dari Perilaku Maksiat

Salah satu perilaku manusia yang harus dijaga adalah nafsu syahwat. Bagi mereka yang sudah mampu dan telah cukup umur, disarankan agar menikah untuk menghindari pelampiasan nafsu syahwat yang tidak seharusnya.

Bagi yang belum cukup umur dan belum mampu, disarankan supaya berpuasa untuk menahan nafsu syahwatnya tersebut.

Menjalankan Sunah Rasulullah Saw

Menikah merupakan salah satu sunah dari Rasulullah. Salah satu tujuan pernikahan dalam Islam ini tentu saja untuk dapat mengamalkan sunah Rasulullah Saw. Sebagai umat Sang Nabi, kita wajib menjadikannya panutan dalam hidup. Dengan menikah, kita sudah mengikuti jejak Rasulullah Saw.

Membangun Keluarga yang Islami

Tujuan pernikahan dalam Islam tentu saja untuk dapat membangun keluarga yang islami dan sesuai syariat. Pernikahan yang dilakukan juga haruslah sakinah, mawadah, dan warohmah. Keluarga yang islami juga nantinya menghasilkan anak-anak yang saleh dan saleha.

Jika melihat hukum pernikahan dalam Islam seperti di atas, maka seseorang yang dianggap sudah mampu sebaiknya menyegerakan menikah untuk menghindari perilaku zina. Selain mampu, orang tersebut juga wajib bertanggung jawab dalam membangun dan membina rumah tangganya.

Tinggalkan Balasan