Kakbah Mekah

Sejarah dan Hikmah yang Bisa Dipetik dari Dua Perluasan Awal Masjidil Haram

Beberapa waktu lalu dunia sempat dihebohkan oleh musibah jatuhnya katrol seberat 1.000 ton yang menewaskan ratusan jemaah haji. Katrol tersebut merupakan bagian dari proyek perluasan Masjidil Haram. Sejak pertama kali didirikan, Masjidil Haram sudah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Semuanya dimaksudkan demi kenyamanan para jemaah haji dan umroh yang datang dari seluruh dunia. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sejarah pembangunan dan perluasan Masjidil Haram serta mengambil hikmah dari proses tersebut.

Kekhalifahan Umar bin Khattab

Gambar Kakbah di Mekah

Gambar Kakbah di Mekah

Menurut sejarah, Kakbah dibangun oleh Nabi Adam. Kemudian pembangunannnya disempurnakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang juga membangun masjid di sekitar Kakbah sebagai tempat untuk menyembah Allah Swt. Kakbah terletak di tengah Masjidil Haram dengan bentuk kubus dan tingginya yang kurang lebih mencapai lima belas hasta.

Renovasi Masjidil Haram yang pertama dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, yakni sekitar tahun 638 Masehi. Pada masa itu, populasi kota Mekkah meningkat tajam, belum lagi ditambah datangnya jemaah haji dari Kerajaan Persia dan Bizantium. Masjidil Haram pada saat itu tidak mampu menampung seluruh pengunjung.Oleh sebab itu, Khalifah Umar memberikan perintah untuk memperluas Masjidil Haram. Langkah awal yang dilakukan adalah membeli rumah-rumah yang berada di kawasan tersebut lalu meratakannya dengan tanah.

Namun, setelah berhasil memperluas kawasan Masjidil Haram, banjir bandang datang menerjang. Banjir tersebut merendam Maqam Ibrahim sehingga harus dipindahkan ke area lain. Saat banjir mulai surut, Maqam Ibrahim pun ditempatkan ke posisi semula. Musibah tersebut membuat Umar mengeluarkan perintah untuk memperbaiki bendungan agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Dengan jalan ini, aliran air di kawasan Mekkah pun dapat dikelola dengan lebih baik.

Kekhalifahan Usman bin Affan

Foto Kakbah

Foto Kakbah

Sepeninggal Umar bin Khattab, sekitar tahun 647 Masehi, Usman bin Affan meneruskan tampuk kepemimpinan di Mekkah. Tantangan yang dihadapi Usman dalam membangun Masjidil Haram pun jauh lebih hebat, sebab populasi masyarakat Mekkah dan jumlah peziarah di Mekkah meningkat tajam. Khalifah Usman melakukan hal yang sama seperti Umar, yakni membeli rumah-rumah di sekitar Masjidil Haram lalu mengubahnya menjadi area baru Masjidil Haram.

Sebagai bagian dari proyek perluasan Masjidil Haram, Usman menambahkan atap dan pondasi dari kayu di belakang Maqam Ibrahim, sebab sebagian besar jemaah hanya salat pada area tersebut.Sementara area lain dari Kakbah dibiarkan kosong. Hingga akhirnya, pada era kekhalifahan Bani Umayyah, keempat sisi tersebut dapat terisi oleh sufuf yang mengelilingi Kakbah.

“Mereka yang berjuang di jalan Allah—yang melakukan haji dan umroh—adalah delegasi dari Allah. Jika mereka memanggil-Nya; maka mereka akan mendapatkan jawaban, dan jika mereka meminta kepada-Nya; maka mereka akan mendapatkannya.” (Ibn Maajah, Ibn Hibban)

Baca juga:

Kakbah Mekah

Kakbah Mekah

Renovasi lalu dilanjutkan kembali pada tahun 692 Masehi. Sebelumnya, Masjidil Haram merupakan ruang terbuka denganKakbah di tengahnya. Oleh sebab itu, renovasi besar pertama yang dilakukan adalah membangun tembok di sekeliling Kakbah. Di samping itu, pembaharuan pun dilakukan pada atap masjid dengan menambahkan berbagai dekorasi yang memiliki nilai seni dan gambaran mengenai sejarah kebangkitan Islam. Pilar-pilar masjid yang semula terbuat dari kayu diganti dengan pilar marmer. Renovasi dan perluasan kawasan Masjidil Haram selanjutnya dilakukan secara terus-menerus dan semakin mutakhir, demi memenuhi kebutuhan para jemaahhaji dan umroh yang jumlahnya semakin meningkat tiap tahun.

Kakbah dibangun sebagai pusat persatuan umat Islam, tempat setiap harinya seluruh muslim menghadap ke arah yang sama ketika menyembah Allah Swt. Kita sebagai muslim hendaknya selalu menghidupkan semangat dan nilai-nilai keimananyang disampaikan para nabi dan rasul ketika menyampaikan firman Allah Swt di Tanah Suci.

Tinggalkan Balasan