Keindahan Masjidil Haram

Sejarah Ekspansi dan Renovasi Masjidil Haram

Kakbah adalah bangunan yang menurut riwayat telah ada sejak zaman Nabi Adam As. Disebutkan bahwa setelah banjir besar yang melanda pada zaman Nabi Nuh As., Kakbah hancur. Lalu dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di atas fondasi Kakbah pada zaman Nabi Adam As. Dari masa ke masa, area Kakbah mengalami ekspansi dan renovasi. Masjid yang dibangun pertama kali di sekitar Kakbah, dikenal dengan nama Masjidil Haram. Masjid ini ikut mengalami perluasan dan renovasi, mengingat jumlah peziarah haji yang datang setiap tahunnya semakin ramai.

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

Foto Ka'bah Masjidil Haram

Foto Ka’bah Masjidil Haram

Sejak zaman Khulafaur Rasyidin sampai era Saudi modern, Masjidil Haram terus mengalami ekspansi dan renovasi. Khalifah Umar yang pertama kali memperluas halaman Kakbah dan membangun tembok setinggi 1,5 meter dengan membeli rumah-rumah warga sekitar. Sedangkan pada zaman Khalifah Utsman, ruang doa diperbesar dan diberi atap bagian atasnya. Sementara menurut sejarah, ekspansi dan renovasi besar-besaran terjadi setelah zaman Khulafaur Rasyidin. Yakni pada zaman Umayyah dan Abbasiyah.

Pada tahun 692 M di masa kekhalifahan Umayyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dibantu oleh Abdullah ibn Zubair merenovasi Masjidil Haram. Dinding luar masjid dibuat lebih tinggi, langit-langitnya ditutup oleh kayu jati, dan bagian tengah tiang diberi cat emas. Ekspansi keempat dalam sejarah dilakukan oleh Khalifah al-Walid pada tahun 705-715, turut serta dibantu oleh anak dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Tiang yang dulunya dari kayu diubah dengan bahan yang terbuat dari marmer, lengkungan berbahan kayu jati diganti dengan lengkungan berdekorasi motif mozaik.

Setelah berganti ke masa Khalifah Abbasiyah, Abu Ja’far al-Mansur melakukan ekspansi dan renovasi yang kelima pada tahun 754-775. Ukuran Masjidil Haram diperbesar hingga dua kali lipat ukuran semula di bagian sayap barat dan utara, juga ruang doa. Untuk pertama kalinya, dibangun menara Bab al-Umrah di bagian sudut barat laut. Setelah berganti kepemimpinan, tibalah Khalifah Muhammad al-Mahdi yang melakukan ekspansi sebanyak dua tahap, ketika pembangunan tahap kedua diselesaikan oleh anaknya, al-Hadi. Pada masa ini, Masjidil Haram kembali diperluas dengan membeli rumah-rumah warga sekitar dan membangun tiga menara bermahkota di atas Bab as-Salam, Bab Ali, dan Bab al-Wad. Para khalifah yang melakukan ekspansi dan renovasi Masjidil Haram pada masa Khalifah Abbasiyah adalah Khalifah al-Mu’tamid ‘Alallah, Khalifah al-Mu’tadid Billah, dan al-Muqtadir Billah.

Letak Kakbah di Masjidil Haram

Letak Kakbah di Masjidil Haram

Terjadi kejadian tidak terduga saat Dinasti Mamluk berkuasa, Masjidil Haram kebakaran. Pada tahun 1399, bagian utara masjid terbakar hingga lebih dari seratus tiang dan plafon marmer rusak. Disusul dengan bencana banjir yang melanda Mekkah, sehingga Sultan Nasir bin Fara Barquq melakukan renovasi dengan mengganti bagian yang rusak.

Pada era Turki Utsmani, mereka turut berkontribusi dalam perbaikan Masjidil Haram. Sultan Salim II memberikan wewenang kepada arsiteknya untuk mengganti atap datar dengan kubah yang dihiasi kaligrafi bersepuh emas. Selanjutnya Sultan Murad pada tahun 1623-1640 merenovasi kubah karena kaligrafi luntur sebab turun hujan. Lantai Kakbah diganti dengan marmer berwarna biru dan dibangunnya tujuh menara di sekeliling Kakbah.

Dengan aplikasi 3 dimensi ini, Anda akan mendapat gambaran virtual, seakan sedang berada dalam Masjidil Haram.

Baca juga:

Sejarah Ka bah Mekah

Sejarah Ka bah Mekah

Komplek Masjidil Haram telah mengalami banyak perubahan, baik itu yang disebabkan oleh bencana alam, peperangan, dan juga serangan kaum Syiah yang menyebabkan ibadah haji pada beberapa tahun setelahnya ditiadakan. Namun, janji Allah untuk menjaga kota Mekkah akhirnya mengembalikan keamanan beribadah yang dirasakan umat Islam saat menunaikan haji hingga kini. Bahkan raja-raja di zaman modern seperti Raja Abdul Aziz, Raja Fahd, dan Raja Abdullah bin Abdul Aziz, sampai kini terus memperbaiki Masjidil Haram dan sarana penunjang haji lainnya demi kenyamanan jemaah haji selama beribadah.

Semoga Allah memberkahi orang-orang yang memakmurkan dan memperbaiki Masjidil Haram. Begitu pula Anda dan kita semua, semoga kita dapat turut berkontribusi dengan menjaga kebersihannya selama menunaikan ibadah haji dan umroh di Tanah Suci Mekkah.

Sumber:

The History of al-Masjid al-Haram and the History of the Ummah

www.amanitour.com/artikelhajiumroh/artikelhajiumrah/renovasi-masjid-haram/

Tinggalkan Balasan