Mengenal Sejarah Backpacker, dari Traveling Hingga Ibadah Umroh

Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera…

Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa…

paket umroh backpacker

Sejarah Backpacker

Tidak heran jika petikan lagu ini familier di telinga Anda. Menggambarkan kemampuan leluhur masyarakat Indonesia yang “suka berkelana”, maklum saja jika saat ini: sebagian besar dari Anda punya keinginan kuat untuk menjelajah seluruh pelosok Bumi. Tentu tidak lagi dengan perahu bercadik, melainkan dengan beragam moda transportasi yang sudah tersedia.

Sayang, apa pun “judulnya”, bepergian kini tetaplah membutuhkan bujet. Jumlahnya, bergantung pada kemampuan Anda mengelola biaya. Beberapa orang lantas menguarkan konsep backpacker–sebagai metode berpelesir dengan biaya hemat. Sejarah backpacker yang mulanya berkisar pada kondisi seseorang yang menggunakan ransel (backpack), kemudian berkembang bukan hanya untuk pendaki, melainkan juga wisatawan, traveler, penjelajah, bahkan jemaah umroh. Lantas, bagaimana bisa begitu?

Memahami Sejarah Backpacker

Secara logika, memanggul backpack (ransel besar) ke mana-mana, memang menjadikan seseorang lebih fleksibel dan “bebas” ke mana-mana. Tidak seperti menenteng koper yang menghambat efektivitas ruang gerak, penggunanya–lebih lanjut disebut dengan backpacker–cenderung dikenal sebagai seseorang bermobilitas tinggi. Adapun backpacker ini kerap digambarkan sebagai seseorang yang selalu berjalan kaki atau naik transportasi umum, menginap di hotel/penginapan murah/rumah penduduk, berpindah-pindah tempat, dan punya perbekalan lengkap.

Backpacker ini kerap digambarkan sebagai seseorang yang selalu berjalan kaki atau naik transportasi umum, menginap di hotel/penginapan murah/rumah penduduk, berpindah-pindah tempat, dan punya perbekalan lengkap

Baca juga:

paket umroh backpacker

Umroh Backpacker

Seiring berjalannya waktu, tidak dapat dimungkiri bahwa status backpacker sering kali terkait pada bujet yang minim. Anggapan ini tentu muncul bukan tanpa sebab. Pasalnya, kegiatan backpacker memang ditujukan untuk “memenuhi” kepuasan ber-traveling dengan biaya murah. Nah, untuk alasan itulah, mereka biasanya selalu menyediakan peralatan dan perlengkapan penting yang mampu menunjang hidup serta mobilitasnya. Ini mencakup tas besar, topi, pakaian, jaket, selimut, bahan pangan, botol air, hingga kompor gas!

Serupa dengan stigma nenek moyang kita yang seorang “pelaut”, setiap wilayah memiliki versi sejarah backpacker-nya masing-masing. Salah satunya, anggapan bahwa para Hippielah yang pertama kali mencetuskan konsep backpacker ini.

Pada sekitar tahun 1970-an, kaum Hippie melakukan perjalanan menyeberangi benua Eropa, menelusuri Mesir, Mesopotamia, India, hingga kota-kota tua Asia sembari berinteraksi dengan orang lain. Nah, selain kaum Hippie, banyak pengamat memercayai, Giovanni Francesco Gemelli Careri sebagai salah satu backpacker pertama di dunia. Ia adalah seorang warga Italia yang penuh rasa ingin tahu–sehingga berhasrat menjelajahi dunia.

Adapun kira-kira tahun 1693, ia mulai menyeberangi Samudra Pasifik dari Manila menuju Acapulco, lantas menginjakkan kakinya di Amerika Selatan dan Asia Utara. Lama perjalanannya berkisar lima tahun dan 254 hari, di mana seluruh pengalamannya ia terbitkan dalam satu laporan ekspedisinya.

Backpacker Sebagai Gaya Hidup: dari Traveling hingga Ibadah Umroh

Seiring berkembangnya waktu dan teknologi, konsep backpacker seolah bukan lagi sebagai kebutuhan melainkan gaya hidup. Banyak cara backpacker yang digaungkan oleh seseorang, mulai dari ranah wisata, bisnis, pekerjaan, bahkan ibadah umrah! Hal ini terutama didukung oleh beragam maskapai yang menyediakan tarif rendah, situs rekomendasi hotel atau anggaran bepergian di dunia maya, hingga kemunculan komunitas-komunitas backpacker di seluruh belahan dunia.

Paket Umroh Reguler Murah

Komunitas Umroh Backpacker

Pada akhirnya, perubahan teknologi, perbaikan situasi, hingga penyebarluasan “tiket murah” turut memberikan kontribusi pada perubahan gaya dan sejarah backpacker. Namun, meski mereka kini banyak membawa peralatan elektronik ringan dan canggih, tidak lagi banyak berjalan kaki, bahkan (bisa saja) bergaya hidup mewah dan nyaman saat bepergian, toh rasanya konsep backpacking tetaplah sama: memanggul ransel besar di setiap perjalanannya.

Tinggalkan Balasan