umroh first travel

Apa Saja Syarat Umroh bagi Perempuan? Simak Ulasannya Berikut

Umroh, sama seperti ibadah lainnya, memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi demi keabsahan ibadah seseorang. Syarat umum agar seseorang dapat menjalankan ibadah umroh di antaranya: muslim, berakal atau tidak sedang mengidap gangguan jiwa, memiliki kemampuan untuk melaksanakan rangkaian ibadah, baligh atau dewasa, dan yang terakhir adalah merdeka atau bukan dari kalangan hamba sahaya dan budak.

Travel Umroh Jakarta yang Bagus

Belajar Haji dan Umroh

Selain syarat umum seperti yang sudah disebutkan di atas, masih ada pula beberapa syarat umroh bagi perempuan, salah satunya adalah syarat keikutsertaan mahram untuk mendampingi jemaah wanita.

Syarat Mahram bagi Jemaah Perempuan

Secara istilah, mahram artinya orang-orang yang tidak boleh dinikahi dalam hukum Islam karena adanya hubungan keturunan, dan persusuan. Lebih tepatnya, mahram diartikan sebagai orang dengan jenis kelamin berbeda dari kita dan tidak boleh dinikahi.

Pemerintah Arab Saudi sendiri mengharuskan jemaah wanita di bawah usia 45 tahun untuk pergi umroh bersama mahramnya, yang dibuktikan dengan adanya surat mahram.

Dasar dari adanya aturan mahram bagi jemaah wanita adalah salah satunya hadis yang berbunyi: “Tidak halal bagi wanita muslim bepergian lebih dari tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadis Riwayat Muttafaq ‘allaihi).

Baca juga:

kemenag haji

Tips Umroh Wanita

Meski demikian, dalil tersebut masih mengundang perdebatan di kalangan ulama. Ada sebagian ulama yang mutlak melarang wanita bepergian tanpa mahram dengan dalil dari hadis Ibnu Abbas sebagai berikut:

“’Dan janganlah seorang wnaita bepergian kecuali bersama mahramnya.’ Kemudian ada seseorang bertanya,’Ya Rasulullah, aku diharuskan untuk pergi ke peperangan namun istriku bermaksud pergi haji.’ Rasulullah bersabda,’Pergilah bersama istrimu untuk pergi haji.’”(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Para ulama yang setuju dengan dalil di atas berpendapat bahwa aturan tersebut semata-mata bertujuan demi keamanan wanita itu sendiri karena menurutnya tidak ada jaminan keamanan bagi wanita yang bepergian sendirian. Adanya mahram dapat menjadi pencegahan tindakan kejahatan yang bisa saja menimpa wanita.

Jika seorang wanita tidak dapat pergi ke Tanah Suci bersama mahramnya, maka diperbolehkan baginya untuk pergi bersama sekelompok wanita demi menghindari timbulnya fitnah. Hal tersebut didukung dengan pendapat ulama Syafi’iyah yang menyatakan bahwa perjalanan bersama sekelompok wanita akan lebih aman sebab kecilnya kemungkinan terjadi khalwat (interaksi yang dilarang) antara pria dan wanita.

Tidak dalam Masa Iddah

Wanita yang sedang dalam masa iddah selepas wafatnya suami tidak diperkenankan untuk bepergian jauh, termasuk pergi ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umroh atau haji. Aturan tersebut didasarkan pada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah: 34, yang artinya:

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri, (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari. Dan apabila telah habis masa iddahnya, maka tiada dosa bagimu para wali membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurt yang patut. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah [2]: 234)

Frasa ‘menangguhkah dirinya’ pada dalil di atas memiliki pengertian bahwa wanita yang ditinggal wafat suaminya hendaknya tidak menikah selama masa iddah dan tidak diperkenankan melakukan hal-hal yang mengganggu masa iddah.

umroh first travel

Syarat Umroh Bagi Perempuan (dokumen first travel)

Para ulama Syafi’iyah mengemukakan bahwa wanita yang sedang dalam masa iddah atau berkabung tidak diperkenankan untuk menjalankan umroh atau haji, sebab kesempatan untuk umroh dan berhaji tidak terbatas pada satu waktu saja, sedangkan masa iddah waktunya sangat terbatas.

Itulah beberapa syarat umroh bagi perempuan yang perlu diketahui oleh para wanita yang hendak menjalankan ibadah umroh. Segala hal yang dilarang dan dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya semata-mata demi kebaikan umat. Wallahualam bissawab.

Tinggalkan Balasan